SUPERNOVA PARTIKEL EBOOK DOWNLOAD

admin Comment(0)

Partikel Books by Dee Lestari. Di pinggir Download Read Online Born in January 20, , she began her debut with a serial novel: Supernova in partikel dee pdf - hamhillfort.infoess - download novel dee supernova partikel pdf, nugerundesu gold fullpernova 4: partikel adalah novel. dwonload supernova partikel 4 dee,read file supernova partikel 4 dee pdf live, where i can download supernova partikel 4 dee pdf, mobi file.


Author: NORBERT ALCOCK
Language: English, Spanish, French
Country: Poland
Genre: Business & Career
Pages: 792
Published (Last): 17.09.2016
ISBN: 531-8-53584-423-9
ePub File Size: 30.88 MB
PDF File Size: 18.21 MB
Distribution: Free* [*Free Regsitration Required]
Downloads: 25826
Uploaded by: TANDY

download, fundamentals of the thai language 3ed pdf hulumtimit ebook indonesian - english code mixing in supernova 4 partikel novel a. partikel dee ebook indonesian - english code mixing in supernova 4 partikel novel guide raspberry pi 3 python programming download book raspberry pi 3 . Download Book Supernova: Partikel EPUB Fully free!.

Goodreads helps you keep track of books you want to read. Want to Read saving…. Want to Read Currently Reading Read. Other editions. Enlarge cover.

Gampang banget kesannya menembus Cornell dan Wall Street: Intinya cerita Gelombang hampir sama dengan Partikel. Anak aneh yang sukses kerja di manca negara, bolos berhari-hari dari Wall Street tanpa dapat tekanan dari bosnya.

Ebook supernova download partikel

Aneh nggak sih? View all 13 comments. Oct 22, Randy rated it it was amazing Shelves: I thought Gelombang would be a "Every night we participate in the most profound mysteries, moving from one dimension experience to another, losing our sense of self and finding it again, and yet we take it for granted.

I thought Gelombang would be about time-space experience and Alfa would be a physic geek. But, surprise, surprise It's more about the spiritual metaphor of Gelombang. The book is about Dream: It's no coincidence that the book is about one of the things I've always been fascinated about. Ever since I was a child I've had my own experiences with dreams, a lot of them are fictional with real story plot and some of them are symbolic, fantastical, and feel almost sacred.

Even once or twice I've even experienced a lucid dream for a very short moment. This spiritual yet also scientific topic is what I adore the most, thanks to Dewi Lester to that. I feel so nostalgic and so close about this book because Alfa's life journey reminds me of my mother. They both come from a very remote area, moved to the big city, and finally reached the centre new world: United States. They both struggled very hard to survive and to get on with life.

Beside the background places which took place in New York and also Tibet, what I like more about this book is the story has more actions to it, the first after the second instalment, Akar. We didn't get Elektra and Zarah to face grave danger in Petir and Partikel, respectively. And finally, I feel like the plot twists about: I can not be saved. I just don't have the right words to express this abundance feelings I am and have always been having towards this creation of Dewi Lestari's.

She is like this human yet not too human, possibly coming from other dimension, or possibly a human vessel to the very old wise and amazing soul coming from other entity that is different from our world. She is like a saviour. She is a Supernova.

She has given me a chance to be a part of this amazing journey. Sadly, we all are only one instalment away from the end of this amazing, mind-blowing, spiritually heart-shaking, journey. Oct 17, Fauzi Atma rated it it was ok. Korelasi antara lokasi dan plot bener-bener lemah. Kenapa mesti ke Amerika dulu untuk akhirnya ketemu buku Kalden? Kenapa nggak sekalian aja nemu bukunya di toko buku bekas bapaktua?

Biar nggak ketemu tokoh nggak penting kayak Amangtua, Troy, Carlos, dan Nicky. Hukum kausatif pada alurnya sangat lemah sehingga bisa disimpulkan alurnya begitu hanya karena Dee ingin menulisnya begitu. Gelombang seharusnya bisa ditulis setengahnya saja. Unsur plot dan pengetahuan masih kalah jauh dari KPBJ, kemenari Korelasi antara lokasi dan plot bener-bener lemah. Unsur plot dan pengetahuan masih kalah jauh dari KPBJ, kemenarikan karakter masih kalah dari Bodhi, humor dan spiritual masih kalah dari Partikel.

Seri kedua terburuk dari Supernova setelah Petir. Nov 30, Alien rated it did not like it. It is so bad, I am so very angry.

Let me regroup and think in Bahasa Indonesia. Satu detik setelah saya menutup Gelombang di tangan saya, saya langsung merasakan kemarahan membakar diri dan hati saya.

Saya benar-benar tidak habis pikir. Saya merasa benar-benar dibohongi, benar-benar dibodohi oleh Dewi Lestari. Buku macam apa ini??? Saya tidak mau berkomentar tentang cerita yang tak tentu arah, tentang tokoh utama yang setipe semua dari buku pertama sampai yang ini , tentang tokoh-tok FUCK! Saya tidak mau berkomentar tentang cerita yang tak tentu arah, tentang tokoh utama yang setipe semua dari buku pertama sampai yang ini , tentang tokoh-tokoh pembantu yang hanya bikin bingung, atau tentang kalimat-kalimat Bahasa Inggris yang tidak diterjemahkan saya baru tahu loh kalau gaya menulis seperti itu bisa jadi karya yang diterbitkan di Indonesia.

Saya hanya ingin mencurahkan perasaan saya.

Get A Copy

Begini rupanya rasa ditipu mentah-mentah. Saya merasa Dewi Lestari tidak pernah memikirkan plot yang benar-benar matang untuk serangkaian cerita Supernova. Saya merasa bahwa dia baru mulai memikirkan detil plot ketika waktu deadline sudah dekat. Makanya hasilnya seperti ini. Makanya juga, janji dia untuk mengakhiri Supernova di buku ke-5 diingkarinya sendiri. Berdasarkan buku Gelombang ini yang saya tangkap, minimal ada 2 buku Supernova lagi yang akan terbit.

Apa pentingnya? Apalagi ceritanya? Saya jadi merasa bahwa Dewi Lestari tak ada bedanya dengan para kapitalis Hollywood yang suka maksa bikin sekuel film hanya karena film pertamanya sukses. Kebanyakan film sekuel ceritanya mengada-ada dan dibuat hanya untuk menambah penghasilan produsernya.

Website tidak ditemukan

Menurut saya, Supernova sama persis seperti itu. Gelombang ceritanya sangat dibuat-buat, Dewi Lestari bahkan tidak mau repot untuk menunjukkan hubungan Alfa dengan tokoh-tokoh utama yang sudah capek-capek dia perkenalkan di buku-buku sebelumnya. Kenapa ya? Dewi Lestari kan tidak mungkin kekurangan uang. Apa dia hanya tidak mau kehilangan para fans sehingga cerita Supernova dipaksa untuk dipanjang-panjangkan?

Yang pasti, saya sih kecewa berat!!! Satu hal yang sangat saya syukuri adalah Untung saja! View all 8 comments. Feb 26, Aesna rated it liked it. Kalau boleh saya singkat sedikit, serial Gelombang adalah begini; kehidupan Alfa alias Ichon yang awalnya lontang-lantung, lamban laun menjadi superhero dengan dilatarbelakangi mimpi-mimpi yang membuatnya pergi keliling dunia untuk mencari kebenaran atas dirinya sendiri.

Jadi, saya akan membagi resensi ini dalam tiga bagian; kabar buruk, kabar baik, Kecipak Bak Mandi dan Thomas Alfa Edison versi Kontemporer yang Karut-Marut Curhat sedikit; saya tidak pernah menulis resensi seserius ini, sungguh. Jadi, saya akan membagi resensi ini dalam tiga bagian; kabar buruk, kabar baik, dan kicau-kicau yang berupaya memberikan suaranya sendiri. Saya sering mendengar kultwit mengenai teknik penulisan yang baik dan tata cara menarik minat pembaca terhadap karya kita, salah satunya adalah dengan menebar rahasia di segala penjuru, baik dari yang kecil-kecil seperti tahi cecak maupun yang rumit dan besar seperti kotoran manusia.

Hal ini saya amini sepenuhnya. Dan Dee, dengan caranya sendiri berhasil membangun itu. Bagi pembaca yang baru pertama kali membaca karyanya —khususnya Gelombang ini—, sedikit banyak akan mendapatkan appetizer yang mewah dalam 19 halaman pertama dalam bab Tipu Daya Ruang Waktu yang disusul dengan kejutan serta rahasia-rahasia Thomas Alfa Edison a. Dalam kultwit yang lain, disebutkan juga sangatlah penting memberikan setidaknya satu humor dalam buku kita agar pembaca tidak jenuh dalam proses pembacaannya.

Lagi-lagi, walaupun tidak banyak, Dee mampu memberikan itu. Kalau kau terlalu pintar, kau jadi harus tunggu orang-orang bodoh. Kau sudah di mana, mereka masih kepayahan lari di belakang. Ikut capek kita. Tapi, saya sendiri juga kesindir sih. Saya sebagai pembaca lumayan mendapatkan ketegangan pada bagian ini. Mereka berdua adalah panutan, pemberi harapan bagi remaja tanggung anti sosial media yang modemnya tidak kunjung pula diisi.

Eh, saya malah jadi kepingin nonton Fifty Shades Of Grey deh. Ini inti, dan membuat saya tepuk tangan; mengenai ketahanan. Entah, setiap penulis Indonesia yang mampu menulis lebih dari halaman dengan ukuran buku yang lumayan besar, setidaknya, walaupun itu bacaan yang sangat tidak bermutu dan ataupun buku itu hanya berisi kalimat oh, oh, oh, saya angkat topi padanya.

Dan, dalam hal ini, penghargaan tinggi saya sematkan padanya, dan saya berharap bisa belajar mengenai ketahanan dalam menulis itu. Saya akan mengatakan ini; tajuk mimpi yang menjadi pokok vital permasalahan dalam cerita ini seolah-olah mati dengan sendirinya.

Oke, saya puji kedalaman riset dan keinginan memberikan informasi yang luas. Oke, saya puji juga narasinya yang asyik itu, tapi, makin lama, tajuk itu seperti kekurangan bahan dan Dee seakan-akan mencari tempelan-tempelan- awkward lain untuk membuat tajuk mimpi itu tetap bertahan, dan yang disayangkan, buku ini tidak lebih dari sekadar lelaki yang berusaha mencari kebenaran dalam mimpinya dengan cara yang repetitif… membosankan sekali. Lalu, merunut latar belakang Mamak dan Bapak yang menamakan anak ketiganya Thomas Alfa Edison versi kontemporer, yang mereka berdua menginginkan anaknya seperti pendahulunya, sang Penemu Lampu, saya rasa tidak cukup berhasil dan membuat citra Penemu Lampu menjadi buruk.

Bagaimana tidak, perjuangan Alfa dari yang semula miskin menjadi kaya terasa bagai isapan jempol dan rintangan-halangan yang Dee berikan tidak ubahnya kerikil-pasir di jalan bebatuan, sangat tidak signifikan. Juga terlalu gampang. Jadi, berkaca perjuangan Edison asli di masa lalu, yang kata kutipan-kutipan google telah melalui 9. Dan kesebalan saya berikutnya adalah mengenai bahasa. Saya tidak tahu harus berkata apa tentang ini. Setiap penulis pasti menginginkan karyanya diterima dan diapresiasi baik oleh pembaca.

Namun, jalan menuju itu tidaklah segampang PNS-bolos-lalu-izin-lalu-yasudah. Kritik, masukan, cemoohan kadang mengiringinya, dan lebih-lebih, dalam setiap novel serial selalu mengandung efek samping yang saya kira sangat perlu diperhatikan; karya yang harus baik dari sebelumnya. Tengoklah serial Divergent. IMHO, serial tersebut adalah salah satu contoh dari salah satu serial yang kurang lebih terasa gagal karena makin lama makin buruk dan kata-katanya bak kakek tua yang tengah bernyanyi, kebanyakan seraknya ketimbang bagusnya.

Jadi, edisi Gelombang kali ini, sebenarnya tidak buruk benar, juga tidak bagus sekali. Pengulangan menjadi momok mengerikan dan membuat novel Gelombang menjadi sekumpulan outline terstruktur yang njelimet dan ombaknya terasa seperti kecipak air bak mandi, apalagi, dengan banyaknya tokoh dalam buku ini, mempertahankan mereka akan cukup sulit, Nai Gomgom dan Ompu Ronggur adalah contoh konkretnya.

Mengenai mereka ada di serial berikutnya, saya tidak mengerti dan hanya berharap saja. Selebihnya, kekurangan-kekurangan kecil tidak terlalu pengaruh dan tertutupi oleh pemilihan diksi dan informasi yang saya dapatkan, terima kasih Teteh Dewi. Dan, yang cukup membuat saya berpuas hati, adalah ketika Dr. Kalden mulai bertemu dengan Alfa.

Saya beri tahu, dari situ, Gelombang yang sesungguhnya baru benar-benar dimulai. Walaupun agak terlambat sih bagian itu. Hehe hehe. Nov 26, Ratnasari Wibawa rated it did not like it. Terus terang saya berharap banyak bahwa Deee akan melakukan sebuah juxtaposisi yang brillian seperti KBPJ. Dimensi ruang nya berubah, ketika cerita dalam cerita pembaca tidak merasakannya. Tapi sepertihalnya Partikel, Akar, dan Petir, saya sudah benar2 ga habis pikir kok Dee kayak kehabisan bekal untuk memabngun plot yang lebih cerdik Well, yang paling maksa adalah: Alfa, dr keluarga miskin, ga punya, trus loncat kelas ke Amerika dgn segala kebetulan2 yang tidak terduga yang menggelikan untuk dil Terus terang saya berharap banyak bahwa Deee akan melakukan sebuah juxtaposisi yang brillian seperti KBPJ.

Alfa, dr keluarga miskin, ga punya, trus loncat kelas ke Amerika dgn segala kebetulan2 yang tidak terduga yang menggelikan untuk dilogika ketemu pamannya, trus dibawa ke Amrik , dan segala kebetulan2 yang membuat dia pandai dan genius tiba-tiba seperti orang hamil di luar kandungan, dan perjalanan Alfa ke Amerika ini benar2 lame duck.

Itu menyakitkan banget, realita fiksi yang enggak believable. Sy tahu benar sekolah disana pasti dimintai asuransi, bukti tinggal, dll, dan yang namanya bikin asurasni ya harus punya KTP.

Download ebook supernova partikel

Orang Indo yang kerja gelap di sana, ga mungkin ga mungkin ga mungkin sampe kuadrat kerja di Wallstreet apalagi masuk ke Cornelllll Unive yang ini gue mau ketawa apa muntah aja malu malu kucing. Aduh satu lagi nih, si Alfanya digambarin ganteng keterlaluan, trus sampe jadi rebutan ini itu, pinter gitaran, menang band, disukai wanita bule ampe pada antri antri!

Dan kelemahan2 satu satunya Alfa adalah: Dee bener2 sakit delusional yang pada tingkat surga ke tujuh. Halo haloooo moshi moshiii. Jadi ceritanya, gak tahu gimana si Alfa ini selama 20 tahun enggak pernah tidur. Gebleg gak tuh. Typical Oke oke Sorry tapi gue mulai muak dengan Alfa dan segala kemunafikannya yang tak terukur tingkatnya, daaan View 2 comments.

Akhirnya, saya merasakan juga rasa frustasi yang dialami semua pembaca yang merating buku ini dengan bintang rendah. Dan saya akan menggemakan kembali hal ini, jika tidak mau dikatakan sebagai yg terburuk, maka Gelombang adalah seri terlemah dari serial Supernova. Untuk sebuah buku yang di tiap serinya menggadang-gadangkan sikap skeptis terhadap agama samawi --di seri Petir dan Partikel sikap skeptis ini berubah menjadi sikap satir bahkan cenderung sinis, yang sebenernya bukan masalah asal: Ayolah, untuk sebuah serial yang berusaha mendedah fisika kuantum, genetika, neurosains, evolusi, kosmologi, etc, ujung yang imajiner ini terasa menggelikan.

Adegan berantem di jembatan di Tibet terlihat datar tanpa ketegangan sama sekali, sehingga saya gak peduli siapa yang bakal tewas meski harapan terbesar tentu saja agar si tokoh utama yg tewas supaya ceritanya cepat selesai.

Dan kondisi ini diperburuk dg karakter-karakter plastik yg mengingatkan saya pada novel Laskar Pelangi: Edensor bahkan Ayat-ayat Cinta. View all 6 comments. Oct 21, Aliftya Amarilisyariningtyas rated it it was amazing. Surat untuk Alfa Sagala Selamat pagi. Selamat siang. Selamat malam, Alfa —di mana pun engkau berada. Alfa, sejujurnya aku benci. Benci sekali.

Aku benci untuk membuat sebuah review dari kisahmu. Maka, pada akhirnya pun kupustuskan untuk membuat surat pendek untukmu saja. Alfa, bukannya aku sok objektif, namun rasanya sulit sekali untuk menghilangkan subjektivisme, bahkan hanya untuk menulis surat ini kepadamu.

Membaca kisahmu membuat sisi kritisku mati. Aku tak bisa menghidupkan kesadaranku. Da Surat untuk Alfa Sagala Selamat pagi.

Dan pada akhirnya, aku pun hanya mampu membiarkan diriku terseret ke dalam alur yang menenggelamkan. Alfa, harus kuakui bahwa kisahmu sungguh digarap dengan lebih matang ketimbang dibanding kisah saudara-saudaramu yang lain —tapi tetap, sejauh ini aku masih tetap penasaran dengan kisah tentang saudaramu yang lain, si Partikel.

Kau dibuat dari proses riset yang tentunya membutuhkan kesabaran yang tak semua orang punya. Satu yang selalu aku suka dari si penulis ceritamu adalah bahwa dalam setiap tulisannya, akhir cerita selalu saja tak tertebak.

Maka, harus kutegaskan bahwa kisahmu menjual ketiga elemen tersebut. Alurmu termainkan dengan cukup baik. Terlampau baik bahkan sesungguhnya. Porsinya sangat pas. Sejujurnya, Alfa, aku sempat mengkhawatirkan akan akhir ceritamu. Sebab, sampai dengan setengah halaman kubaca, aku masih belum menemukan kisah berlatarkan Tibet itu.

Aku sempat takut pada akhirnya eksekusi pada puncak konflik akan terkesan terburu-buru. Namun, dugaanku salah besar, Alfa. Ah, aku merasa bodoh karena sempat meragukan kisahmu. Alfa, selain itu aku juga sangat menyukai logo Gelombang-mu. Entahlah, tak ada alasan pasti mengapa aku begitu menyukainya. Dan aku pun tak mau pusing-pusing mencari tahu alasannya. Namun, Alfa, ada sebuah pertanyaan yang kemudian mengganggu pikiranku. Mengapa logo Gelombang-mu diberi warna orange dan bukannya biru?

Iya, meski kutahu warna biru telah terpakai untuk saudaramu. Alfa, rasanya tak perlulah aku menulis lebih panjang lagi dari ini. Sebab, hal tersebut memanglah tak diperlukan.

Terakhir saja untuk mu, Alfa. Tolong sampaikan salam hangat dariku untuk penulismu, Ibu Suri. Sampaikan juga padanya, bahwa aku di sini sedang gundah menanti kehadiran saudaramu yang terakhir, Intelegensi Embun Pagi. Selamat pagi. Dec 22, Stephanie rated it really liked it Shelves: Buku ini menceritakan tokoh baru Alfa. Di awal buku ceritanya agak membosankan karena banyak membahas tentang hal-hal gaib.

Tapi ada juga hal menarik yang membahas tentang nama dan penelusuran garis keturunan dari sebuah marga dalam suku batak, sampai ditemukan pertalian saudara antara suku batak yang satu dengan yang lain.

Dimulai dari masa kecilnya yang sering diganggu oleh makluk2 aneh yang mau membunuhnya dalam mimpi, sejak itu Alfa tidak perna benar2 tidur. Mau sih kalau bisa ga tidur kaya A Buku ini menceritakan tokoh baru Alfa.

Mau sih kalau bisa ga tidur kaya Alfa, lumayan kan ada tambahan waktu 8 jam setiap harinya. Secara keseluruhan buku ini menceritakan tentang dimensi lain Asko yang hanya bisa dicapai via mimpi.

Disana Alfa bertemu dengan diva bintang jatuh , tokoh dari buku sebelumnya. Jadi ada beberapa peran di dalam dunia itu yaitu Shirata, antarabhava dan peretas. Pada bagian ini seru sekali, mirip seperti inception. Aku suka memikirkan ttg lucid dream, apa makna dibalik mimpi. Yang diceritakan disini ternyata melebihi itu semua, yang dialami Alfa bukan sekedar mimpi namun dimensi yang ternyata diciptakan oleh dia sendiri.

Makluk yang selalu mencoba membunuhnya juga ternyata adalah dirinya sendiri Aku akan lanjut ke buku selanjutnya yang juga buku terakhir dari kisah Supernova, Intelegensi Embun Pagi. Oct 17, Dyas Kriswardhani rated it it was amazing. Ternyata Bintang Jatuh bukan bagian dari Gugusnya Gelombang. Mind blowing banget buku ini. Dan dengan selesainya episode Gelombang, kembali gelisah nunggu episode Intelegensi Embun Pagi. Nov 05, Reza Nufa rated it liked it.

Alfa Ichon, anak yang mendapat karunia. Dukun di kampungnya menggadang-gadang dia sebagai penerus orang-orang sakti. Di bagian selanjutnya akan terungkap bahwa Alfa bisa memasuki mimpi sebagai entitas yang punya kesadaran utuh, bahkan berbicara dengan kesadaran lain yang hadir dalam mimpinya. Tapi, sepanjang cerita, tidak dijelaskan apa guna dari kemampuan itu. Ini semacam pergolakan pribadi seorang Alfa, yang kadang terasa seperti seorang pengecut yang berusaha lari dari bangku sekolah.

Cara Dee Alfa Ichon, anak yang mendapat karunia. Cara Dee membangun narasi, mendeskripsikan wajah tokoh-tokohnya, memberi suspense, cukup bisa dinikmati. Saya memuji ruang imajinasi novel ini. Sayangnya, banyak bagian yang terasa dijejalkan begitu saja, tanpa jelas juntrungannya, tidak kokoh kausa pembangunnya, terutama di pembangunan plot.

Eh, btw, di review buku ini saya ingin meracau saja ya. Sedang enggan menyajikan dengan terstruktur. Tapi lihat aja deh seperti apa jadinya. Kita mulai. Buku ini dibangun dengan imajinasi yang keren, namun lemah dalam bangunan logisnya. Semacam terlalu banyak penggampangan. Ketika upacara pemanggilan roh terjadi di kampung Ichon, kenapa Si Jaga Portibi baru muncul di hari itu?

Di upacara-upacara sebelumnya, apakah Si Jaga Portibi tidak bisa menemukan keberadaan Ichon? Atau karena Ichon tidak mendengar musiknya, makanya dia tidak bisa melihat Si Jaga Portibi? Padahal dijelaskan bahwa ketika upacara pargondang itu dilakukan, batas antara dunia manusia dan dunia roh menjadi menipis, dan Si Jaga Portibi selalu berada di dekat Ichon. Anehnya lagi, kemunculan Si Jaga Portibi justru membuat keberadaan Ichon—sebagai peretas mimpi—menjadi terendus Sarvara, padahal, semestinya Si Jaga Portibi itu baru muncul kalau Ichon sudah terancam.

Bukannya menjadi pelindung, dia justru menjadi penyebab kemunculan ancaman. Di bagian ketika Ichon alias Alfa mengikuti seminar Tom Irvine, saya bahkan sampai terkekeh.

Kenapa argumen sederhana Ichon—yang sebetulnya anak-anak ekonomi yang belajar marketing pasti paham itu—bisa jadi spesial buat Irvine? Sampai-sampai Irvine mengundang Ichon untuk bicara berdua. Kalau di seminar itu ada gue, jelas gue yang akan lebih dulu menjawab pertanyaan Irvine. Pembaca lain pun pasti ada yang mengalami ini. Kemudian, ketika Ichon ikut lomba main musik. Aduhai, ini anak kok sepertinya memenangkan itu dengan mudah ya?

Deskripsi yang dibangun ketika dia memainkan gitar dan bernyanyi sama sekali tidak spesial. Kenapa dia bisa menang? Saya kepikiran, jangan-jangan Ichon ini memang pakai dukun untuk memenangkan lomba itu. Eh, atau yang main gitar itu sebetulnya bukan Ichon, melainkan Si Jaga Portibi? Ngeri kali, Bang!

Selanjutnya, tentang ketakutan yang dia alami dalam mimpi dan tidurnya. Nyali lu bahkan lebih gede dari otak lu! Anehnya, dia justru membiarkan sebuah mimpi menakutinya—selama bertahun-tahun! Apalagi kalau dikaitkan dengan fakta bahwa dia orang cerdas, insinyur iya kan ya? Kok bisa, ya, dia bela-belain jadi insomnia menahun hanya karena takut sama mimpi? Takut dibekap dengan bantal? Jauhkan bantalnya, Chon, jauhkan!

Kamu tidak terpikir pada hal sesimpel ini? Inilah kenapa saya bilang Ichon pecundang, atau, lebih tepatnya, dia tidak konsisten sebagai sebuah karakter fiksi. Kecuali jika penulis memang bermaksud membangun karakter yang semacam itu. Satu contoh paling jelas, sikap Ichon yang cengeng dan penuh drama itu dijelaskan pada dialognya Nicky di halaman Dua jam kemudian, saya melihat seseorang yang defensif dan tidak mau dianggap bermasalah.

Terakhir, ketika Ichon pindah dari Jakarta ke Amerika, kenapa ayahnya tidak melarang? Padahal di perdebatan sebelumnya—ketika Gultom main ke rumah mereka—ayahnya berkeras bahwa yang akan berangkat adalah abangnya Ichon dan Ichon akan lanjut kuliah di UI.

Eh, ujug-ujug Ichon berangkat ke Amerika.

Tidak ada perang mulut yang terjadikah? Yang ada hanya air mata keluarga yang melepasnya pergi. Lagi-lagi Ichon ini gampang banget hidupnya. Bagian kedua. Saya ingin membahas deskripsi Dee tentang dunia dalam mimpi. Beberapa kali Dee terpeleset atau mungkin bingung untuk membangun dunia itu.

Kemudian, di halaman , ada penjelasan yang justru membuat saya bingung, yaitu ketika Dr. Lakukan semua tahap visualisasi yang kutulis di buku ini seperti apa jelasnya? Begitu kamu melihat lorong, jangan lawan gimana cara melawan lorong?

Ikuti saja. Biarkan dia menarikmu masuk oke, berarti lorong ini mengisap. Kamu harus mulai stabil dari awal menutup mata penjelasan ini mestinya di depan, Doktor! Sthirata yang akan membuatmu bertahan meski muncul rasa sakit, takut, ragu, bahkan euphoria. Anggap sthirata sebagai tongkat penyeimbang di atas tali dan kamu harus menyeberangi sungai emosi dan sensasi fisik.

Jatuh berarti hanyut. Apa pun yang terjadi, jangan biarkan dirimu hanyut Jadi jangan biarkan lorong itu mengisap? Hanyut berarti perjalananmu bubar. Izinkan saya baca ulang penjelasanmu! Kalden—sebagai infiltran—tidak lupa akan itu, harusnya penjelasannya lebih jernih, tidak berputar-putar dalam medan abstrak dan terjebak dalam anggapan.

Ketiga, tentang dialog. Buku ini mencampuradukkan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia dalam satu pengucap yang sama, dan itu di Amerika. Ini cukup mengaburkan imajinasi saya.

Saya selalu membayangkan bagaimana si tokoh mengucapkan dialognya dan bahasa apa yang sebetulnya dia gunakan. Maka, ketika dua bahasa digabung penggunaannya, saya jadi heran, yang mana tokoh yang sebetulnya berbahasa Indonesia, yang mana yang berbahasa Inggris, Meksiko, Tibet, dll. Saya lebih senang jika mereka semua memakai bahasa Indonesia, dan khusus untuk beberapa kata yang tidak bisa dibahasaindonesiakan karena berbagai sebab , barulah tetap dalam bentuk bahasa aslinya.

Dan yang terakhir, barangkali ini yang paling menyebalkan. Jika memang para Sarvara itu tidak akan pernah mati dan mereka bisa memilih bentuk apa pun yang mereka mau ketika fisik mereka rusak, kenapa Pemba tidak membunuh Ichon alias Alfa ketika mereka di mobil dan Nicky kesulitan bernapas?

Kenapa Pemba harus menunggu saat-saat yang tepat jika misi terbesarnya adalah membunuh Alfa dan dia bahkan bisa hidup lagi jika terbunuh? Belum lagi jika melihat fakta bahwa Sarvara sangat membenci peretas mimpi. Kalau saya punya modal kebencian dan keabadian seperti mereka, saya akan langsung menyerang Alfa di mana pun saya berada.

Saya tidak akan peduli jika saya ditangkap polisi atau dimarahi mamak saya. Serius deh. Ketika adegan Alfa menahan satu tangan Pemba dan Pemba hampir jatuh dari jembatan, kenapa Pemba tidak menyerang bagian nadi Alfa?

Dia malah menyerang ke arah yang jelas sulit dijangkau. Dikatakan pula bahwa Sarvara ini ada banyak di Lasha. Lalu kenapa si Pemba tidak mengajak teman-temannya?

Kenapa dia cuma menyerang sendirian? Keroyok saja si Alfa itu, pasti mati dia! Banyak tokoh yang terlalu kelihatan bodoh, dan yang pintar sekaligus dimudahkan jalan hidupnya hanyalah Alfa.

Semua untuk Alfa. Ini semacam menonton film action yang gerakan musuhnya sering lamban bahkan ceroboh sementara si jagoan selalu teliti dan tidak kehabisan energi. Saya sebetulnya menikmati bagian awal buku ini, ketika Ichon masih di Medan. Saat dia pindah ke Jakarta, lalu Amerika, habis sudah; sepanjang buku ini berisi kebosanan dan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab.

Bagian paling tidak penting dalam buku ini adalah ketika Ichon di Hoboken. Bagian itu dibuang pun hasilnya pasti sama saja. Akhir kata, kapan-kapan Alfa mesti main ke dalam mimpi saya. Saya jamin dia akan terkencing-kencing di sana, dan dengan begitu dia akan lebih tenang ketika menghadapi mimpinya sendiri.

Tertanda, Joseph Gordon Levitt View all 7 comments. Oct 20, Kasandika Ganiarsa rated it it was amazing Shelves: Sebelumnya, saya ingin mengatakan bahwa tulisan ini mungkin tidak sepenuhnya adalah review saya untuk Gelombang, tetapi lebih kepada opini saya terkait serial Supernova Dee. Akhirnya, setelah menunggu 2 tahun yang terasa sangat lama, kepingan baru dari serial Supernova terbit juga.

Setelah merasakan dahsyatnya KBPJ, Akar, Petir, dan Partikel, rasanya tidak sabar untuk langsung membaca Gelombang segera setelah bukunya sampai ke tangan walaupun ujian tengah semester sudah di depan mata. Dan lagi-la Sebelumnya, saya ingin mengatakan bahwa tulisan ini mungkin tidak sepenuhnya adalah review saya untuk Gelombang, tetapi lebih kepada opini saya terkait serial Supernova Dee.

Dan lagi-lagi, saya dibuat terpukau oleh Dee. Gelombang habis saya baca "hanya" dalam waktu enam jam. Itu pun karena harus diselingi kegiatan mempersiapkan UTS yang terus menghantui selama membaca Gelombang, walaupun pada akhirnya tidak berhasil mengalahkan rasa penasaran untuk terus membaca sampai usai. Di akhir perjalanan saya bersama Alfa, saya rasa saya harus mengakui Dee sebagai penulis Indonesia favorit saya sepanjang masa, karena tidak ada karyanya yang saya tidak suka.

Kemampuan Dee yang paling mengesankan, menurut pendapat saya pribadi, adalah bagaimana ia bisa meniupkan 'ruh' kepada masing-masing karakternya sehingga mereka menjadi 'individu' yang terasa sangat nyata, tidak dibuat-buat, dan tidak terasa diciptakan oleh orang yang sama.

Mungkin selama ini banyak yang mengkritik Dee karena gaya kepenulisannya pada setiap seri Supernova seolah berbeeda. Namun bagi saya, itu adalah cara Dee menghidupkan karakternya dan ia membuat saya seolah mengenal masing-masing karakter dan dapat memahami ,atau setidaknya melihat dunia, melalui kacamata mereka. Jika ternyata hal itu membuat gaya kepenulisan tiap seri Supernova berbeda, saya menganggap hal itu sangat wajar, toh cara bernarasi setiap orang pasti berbeda-beda bukan?

Ya, Dee berhasil membuat saya merasa setiap karakternyalah yang menceritakan kisah mereka kepada saya secara langsung tanpa melalui perantara siapapun. Kemampuan ini pula yang membuat saya selalu menantikan setiap seri dari Supernova, karena setiap seri menawarkan pandangan baru, melalui individu dengan karakter yang berbeda, sehingga Supernova tidak menjadi serial yang membosankan. Kehebatan Dee yang lain adalah kemampuan risetnya sehingga dapat menghasilkan cerita yang tidak hanya mengesankan, tetapi juga terasa nyata.

Perjalanan Alfa dan Zarah misalnya, tidak akan terasa nyata dan menghanyutkan andai terasa palsu. Tetapi, meskipun Dee mungkin belum pernah ke Tibet atau pedalaman hutan tempat orangutan tinggal secara langsung, she wrote like she's been to one and she make us feels like we are currently visiting the places. Kemampuan riset Dee pula yang membuat saya, meskipun mungkin tidak memiliki ketertarikan personal yang sama dengan Dee, tetap terpesona untuk membaca dan sekaligus menjadi penasaran untuk mencari lebih jauh tentang hal-hal yang dibicarakan Dee dalam bukunya.

Yang terakhir, yang paling saya tidak mengerti, adalah bagaimana Dee bisa menyihir karyanya menjadi karya-karya yang seolah tetap melekat di pikiran lama setelah saya meletakan fisik bukunya. Sampai detik ini saya masih dapat mengingat sebagian besar perjalanan hidup Alfa walaupun hanya saya baca dalam waktu 6 jam dan bahkan , yang merupakan karakter favorit saya, perjalanan Elektra yang bukunya terakhir saya baca bertahun-tahun yang lalu.

Episode ke 5 dari 6 Supernova sudah terbit, hanya tinggal satu kepingan terakhir yang akan meng-khatam-kan perjalanan ini. Walaupun tentu sangat tidak sabar menanti kepingan terakhir Supernova terbit, saya berharap Dee tidak terburu-buru untuk menyelesaikannya. Supernova adalah perjalanan panjang yang sangat menyenangkan, dan saya benar-benar berharap Dee akan menyelesaikannya dengan luar biasa. Selamat menulis, Ibu Suri Oct 03, Mario rated it liked it Shelves: Gelombang memberikan detail cerita yang bertele-tele.

Namun saya tau, bertele-tele adalah cara Dee untuk menjelaskan seperti apa karakter yang ia bangun, meskipun sebetulnya agak gagal untuk saya, karena saya belum bisa mendalami karakter Alfa dengan baik, kelebihannya seperti apa, nilai apa yang bisa diambil, gimana cara dia berpikir, sisi uniknya dari mana, dan apa yang bikin dia lebih 'pinter' dari orang lain. Sebaliknya, justru dalam Partikel, buku setebal itu sangat worth sama pendalaman kar Gelombang memberikan detail cerita yang bertele-tele.

Sebaliknya, justru dalam Partikel, buku setebal itu sangat worth sama pendalaman karakternya Zarah, dan semua hal, pengetahuan serta pengalaman yang ia perdalam, dan perjuangannya untuk mencapai cita-cita. Begitupun halnya dalam Petir dan Akar. Bagi saya tujuan buku ini hanya menarik kesimpulan buat pembaca terhadap rasa penasaran dari keterkaitan cerita antara Alfa dan karakter-karakter sebelumnya. Kalau bukan karena ngebet banget pengen nge- review , mungkin Gelombang bakal lama banget saya selesaikan nih Buku ini biasa aja, ga ada yang spesial, jadi ga ada yang perlu dilebih-lebihkan: Nov 30, Stebby Julionatan rated it it was ok.

Kali ini, jarak terbit Gelombang dengan pendahulunya baca: Partikel hanyalah 2 tahun. Dan tentunya, dengan rentang waktu yang relatif lebih singkat tersebut, menjadi semacam kelegaan tersendiri bagi Anda —para penggemarnya, yang sudah penasaran dengan bagaimanakah kelanjutan hubungan Dhimas dan Ruben pasca gagalnya makan malam romantis menandai dua belas tahun kebersamaan mereka.

Apakah Dhimas akan memutuskan Ruben setelah mendapatkan email dari Gio? Ya, saya sarankan Anda untuk sedikit bersabar. Anda harus kembali, sedikit menahan, keingintahuan Anda tentang bagaimanakah kelanjutan kisah cinta yang serba berliku dan tak biasa ala Supernova.

Meski keempat tokoh yang membantunya Bodhi, Elektra, Zahra dan sekarang Alfa sudah muncul, Dee sepertinya masih irit. Masih penuh misteri. Penulis kelahiran Bandung, 20 Januari itu sepertinya, sekali lagi, masih senang memaparkan tanya ke benak para pembaca setianya mengenai detail dari sebuah konsep besar Supernova yang diusungnya.

Sebagai bagian terakhir baca: Akar, Petir dan Partikel. Gelombang, dengan tokoh utamanya Alfa, memang bisa dibaca terpisah dan menjadi novel mandiri. Kisah yang berdiri sendiri. Namun, buku kelima dari serial Supernova ini tetaplah bagian dari sebuah puzle yang tidak lengkap ketika kita tidak menyatukannya dengan potongan-potongannya yang lain.

Seperti yang saya rasakan saat ini, untuk meresensinya saja, saya harus kembali melirik beberapa bab di Akar dan Petir, termasuk juga browsing tempat-tempat eksentrik, seperti: Madidi, Vallegrande dan Hoboken. Sebelum bercerita mengenai sosok Alfa, novel setebal halaman ini dibuka dengan keputusasaan Gio dalam upayanya melacak keberadaan Diva yang hilang di Hutan Amazon. Lewat 40 hari dan Diva tak jua ditemukan. Dan intuisi Gio mengatkan bahwa dia harus pulang ke Jakarta.

Mungkin, aku akan coba ketemu orang itu. Pria yang nampaknya terburu dan menjejalinya denga 4 buah batu hitam berukir, sesaat sebelum Diva dikabarkan menghilang. Kini, Amaru kembali muncul begitu saja di apartemen Gio dan Pedro, sahabatnya, dan meminta Gio untuk menemui Madre Ayahuasca. Apakah itu sebuah pertanda bagi Gio untuk menemukan Diva? Kalau Bodhi bisa melihat jasad renik, Elektra biasa bermain dengan petir, Zahra mampu berjalan di dalam hutan dengan mata tertutup, Alfa pun terlahir dengan keanehan yang sama.

Sebab, jika gondang tersebut dimainkan, Alfa bakal blingsatan. Berteriak-teriak dan meraung-raung tak tentu arah hal. Di sanalah titik masalah terjadi. Dari sebuah upacara gondang akhrinya mengubah kehidupan Alfa untuk selamanya. Bocah asal dusun kecil di ujung Sumatra baca: Sianjur Mula-Mula yang belum balig tersebut akhirnya terus dihantui oleh mahluk misterius berjuluk Si Jaga Portibi. Tak hanya itu, sejak malam itu, orang-orang sakti di kampungnya pun berebut, menginginkan Alfa menjadi murid mereka.

Dan, yang paling mengerikan dari itu semua, setiap tidur Alfa menjadi semacam pertaruhan nyawa. Ia pun berlari. Perantauan Alfa jauh membawanya hingga ke Amerika. Berjuang sebagai imigran gelap yang ingin mengubah nasib dan status. Pada suatu malam, kehadiran Star ref. Di Lembah Yarlung, Tibet, jawaban dari semua pertanyaan itu mulai terkuak. Dalam buku ini, adegan yang paling saya sukai adalah saat Alfa harus menghadapi gangguan banyak gangster yang berkeliaran di lingkungan slum-nya di Hoboken.

Gegara lift di dalam apartemen yang ditinggalinya macet, maka Alfa harus mengambil jalan manual, menuruni tangga dan menghadapi para gangster di setiap tingkatannya. Sesuatu yang langsung mengigatkan saya pada aksi-aksi keren di film The Raid. Soal kekurangan, entahlah, jujur ini buku Dee yang paling sulit untuk saya baca dan pahami. Butuh membacanya berkali-kali sampai saya mengerti konsep apa yang ingin dituangkan Dee dalam novel ini.

Terutama soal mimpi dan tidur alfa. Saya juga bukan penikmat drama yang bertele-tele, yang dipajang hingga berbab-bab atau berlembar-lembar banyaknya. Sehingga saya teramat merindukan gaya penulisan Dee yang ringkas dan tanggas seperti pada Akar atau Petir, masa-masa sebelum Dee menulis Perahu Kertas yang penuh drama.

Tapi apapun itu, Dee tetaplah corong dan pelita bagi penulis-penulis muda bahwa dunia literasi Indonesia tidaklah mati. Ia, bagi saya pribadi, adalah orang bisa mengawinkan industri dan sastra yang berbobot. Ia mengajarkan tentang pentingnya ketekunan dan kerja keras lewat prosesnya berkarya. Di akhir resensi, ijinkanlah saya kembali menyitir kata-kata Dee: Bersatu denganmu menjadikan aku mata semesta.

Nov 18, Awal Hidayat rated it it was amazing Shelves: Se a gala Berawal dari Mimpi Beberapa malam belakangan ini tidur saya menjadi tidak teratur. Mulai terlelap setelah pukul sebelas malam, dan kadang-kadang terbangun tanpa sengaja di pukul satu atau dua dini hari.

Mimpi buruk selalu melanda, tidak dalam satu tema yang sama. Sekali waktu, saya memimpikan kerabat yang meninggal. Lain waktu, kekasih saya menjadi jauh dan tidak lagi peduli dengan hubungan kami. Beragam hal buruk kemudian bertubi-tubi datang dalam tiap bunga tidur.

Dan semua Gelombang: Dan semuanya menjadi makin tak terkendali. Ah, saya memang tipikal orang yang pelupa. Setelah membaca buku bacaan ringan di malam hari sembari berbaring santai di kasur, tanpa sadar mata tiba-tiba terpejam. Kapabilitas untuk lama-lama membaca tak lagi setangguh biasanya beberapa pekan terakhir ini. Saat terbangun dengan peluh dingin itu, saya baru disadarkan kalau lupa merapalkan mantra sebelum tidur, BismikaAllahumma ahya wa amutu.

Mengucap istighfar disertai segelas air putih menjadi satu-satunya penyembuh paling mujarab dari situasi yang tidak sehat untuk pikiran. Mengingat tentang mendapatkan nightmare , satu yang terlintas di dalam benak ialah Alfa Sagala. Dalam buku ini, Alfa Sagala diceritakan bahkan sejak ia lahir.

Sejak itu pula, dalam satu malam, ia mulai mendapatkan firman melalui mimpi-mimpi buruknya. Malam-malamnya pun dilalui dengan pertaruhan antara hidup dan mati yang mengerikan. Di lain waktu, ia bahkan merelakan untuk tak tidur berjam-jam demi menghindari mimpi buruknya.

Masa aktif akun hosting gratis hampir habis.

Lucid dreaming yang dialami Alfa, hampir-hampir sama dengan yang datang di beberapa malam belakangan. Ada kerabat yang tiang bendera putih terpancang dari depan rumahnya, dan kekasih yang tidak lagi sepeduli biasanya. Antara Alfa dan saya, memang masih jauh kompleksitas mimpinya. Ketimbang mimpinya, apa yang saya punya masih belum apa-apa. Kecuali, kalau saya memang Alfa di dunia parallelnya Gelombang. Tiap sajak seperti memberikan bocoran perihal karakter dalam tiap serialnya.

Dan sekalipun tak pernah, puisinya menjadi kekecewaan. Yang ada ialah semacam sihir untuk melanjutkan membuka halaman berikut. Lihat saja dua larik terakhir: Ya salaam… tangan siapa yang tak tergoda? Baru beberapa lembar, saya sudah mulai trenyuh dengan kelanjutan ceritanya, apalagi percakapan dengan Paulo, dan Mama. Tentang harapan yang sudah di ambang pupus tetapi tetap ada untuk bertemu dengan Diva.

Barulah, setelah pertemuan Gio dengan Amaru, misteri sedikit lebih mudah terpecahkan. Di keping berikutnya, muncullah Alfa a. Karakter baru yang lahir di Sianjur Mula-Mula, kampung manusia pertama manusia di tanah Batak.

Seperti serial sebelumnya, Dee tetap mempertahankan ke-fiksi ilmiah-annya. KPBJ dengan teori-teori kuantum. Klik di sini untuk melihat semua fitur.

Web Hosting Premium Rp. Web Hosting Bisnis Rp. Butuh power lebih untuk proyek online Anda? Cek paket cloud hosting dengan teknologi terbaru. Lihat Paket Hosting. Jaminan 30 hari uang kembali Jika tidak puas dengan layanan Hostinger, kami akan mengembalikan uang Anda sepenuhnya. Kemudahan Website Builder Jaminan Uptime Penawaran terbatas! Mulai dari.

Kami menggunakan cookie untuk menyempurnakan layanan serta menampilkan iklan sesuai kebutuhan Anda.